Kabupaten Bandung Jadi Model Korporasi Petani Kebun


14 Feb 2020 14:06:48


Salah satu yang menjadi projek utama korporasi pada tahun 2020 adalah petani kopi di Kabupaten Bandung. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, A. Tisna Umaran mengatakan, dari sisi pelaku usaha dan petani kopi di Kabupaten Bandung terbilang sudah siap.

Ia mencontohkan, petani atau pelaku usaha kopi sudah ada yang berorietasi pada mutu dan ekspor. Bahkan hingga kini ada sekitar 40 merek kopi di produksi petani dan pelaku usaha. Wilayah produsen kopi ada 15 kecamatan diantaranya Kecamatan Pengalengan, Kertasari, Pacet, Cileuyi, Cicalengka, Ciwidey.

“Secara individu korporasi sudah berjalan, sayangannya petani dan pelaku usaha berjalan sendiri-sendiri, tidak dalam satu kelompok. Selama ini petani berjuang sendiri, sedangkan rangkaian bisnisnya terlepas,” kata Tisna di sela-sela Sosialisasi Koordinasi Korporasi Petani Kopi di Kabupaten Bandung, Kamis (13/2).

Karena itu ada upaya membuat korporasi petani. Pada tahun 2020 ini ada major project dari pemerintah, salah satunya Kabupaten Bandung dengan komoditas kopi. Korporasi petani ini menurut Tisna sejalan dengan upaya Pemerintah Jawa Barat dengan slogan ‘Kopi dari Bandung untuk Dunia’.

Pengembangan kopi di Kabupaten Bandung sendiri ungkap Tisna juga menjadi salah satu upaya Pemerintah Daerah untuk memperbaiki daerah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Selama ini wilayah atau kawasan hutan di Kabupaten Bandung banyak yang rusak, karena digunakan untuk budidaya hortikultura. “Setidaknya ada 50 ribu ha di areal kehutanan yang perlu perbaikan konservasi hulu Citarum,” ujarnya.

Seperti diketahui Pemerintah pada 14 Maret 2018 telah  mengeluarkan Peraturan Presiden No. 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum. Perpres tersebut menjadi dasar pelaksanaan sejumlah program dan rencana aksi, yaitu penanganan lahan kritis, penertiban keramba jaring apung (KJA), penanganan limbah industri, sampah domestik, penegakan hukum lingkungan, perubahan perilaku dan edukasi masyarakat tentang lingkungan.

Gantikan Tanaman Hortikultra

Kegiatan pengembangan kopi menurut Tisna sudah dimulai sejak tahun 2003-2006 untuk menggantikan tanaman hortikultura. Saat itu petani ditawarkan untuk membudidayakan tanaman yang lebih ramah lingkungan, seperti rumput gajah untuk pakan ternak sapi perah, sutera dan kopi. “Tapi petani lebih memilih kopi karena dinilai lebih ekonomis,” ujarnya.

Tisna mengingatkan, dengan makin berkembangnya budidaya kopi di Kabupaten Bandung, bahkan perluasan arealnya mencapai 1.000 ha/tahun, perlu segera diantisipasi pemerintah yaitu melonjaknya produksi. Dikhawatirkan dengan melimpahnya produksi harga kopi akan turun.

Karena itu membentuk korporasi petani Tisna menilai sebagai salah satu jalan keluar bagi petani. Kabupaten Bandung nantinya bisa menjadi contoh daerah lain dengan komoditas yang beda. “Kita sudah pikirkan mapping untuk target ekspor.  Mislanya, blok A untuk ekspor ke mana, blok B kemana dan seterusnya,” ujarnya.

Kepala Subbagian Wilayah 2 Bagian Perencanaan Wilayah, Biro Perencanaan Kementerian Pertanian, Tien Anggraini menegaskan, mengapa Kabupaten Bandung menjadi major project pembentukan korporasi petani. Selain sudah berupa kawasan kopi, Pemda juga mendukung dan siap. “Kopi sudah membudaya bagi petani di Kabupaten Bandung,” katanya.

Dengan korporasi diharapkan, petani dan pelaku usaha bisa lebih mandiri. Sebab, selama ini keuntungan, khususnya dalam pemasaran produk lebih banyak diambil pedagan dan pengumpul. Nah, dengan korporasi, petani bisa mengelola sendiri usahanya dalam bentuk perusahaan terbatas atau PT.

“Memang untuk membangun korporasi ini perlu modal usaha, karena itu kami mengajak perbankan dan BLU dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menjadi mitra untuk memberikan bantuan pendanaan untuk pelaku usaha dan petani,” tuturnya.

 

(Sumber : Julian; SInartani, 14/02/2020)



Komentar