Penyangga Tatanan Negeri


16 Jun 2020 10:41:41


Kunci sukses negara agraris, pemimpin bisa menyatu dan dekat dengan petani. Tanpa empati, kebijakan pertanian justru malah mematikan kehidupan petani. Kebijakan pemerintah tidak memusuhi dan menelantarkan nasib petani nasional. Saat ini, mayoritas petani nasional membutuhkan sentuhan dan perhatian lebih.

Apakah saat ini petani kurang mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah? Inilah tugas kita semua untuk mengelaborasi agar ada keperpihakan pemerintah dan stakeholder di bangsa ini untuk saling bersinergi mendukung petani.

Diawal era kemerdekaan bangsa Indonesia pemerintah dan stakeholder mampu menggabungkan logika dengan olah rasa. Dengan begitu, bisa memosisikan diri bagaimana menjadi rakyat yang butuh makan, dan tahu apa yang harus dilakukan untuk memenuhi tugas itu. “Logika petani amat sederhana, jadilah bagian dari mereka, berikan teladan sederhana, bangkitkan harapan untuk bisa menjadi pejuang kemandirian ekonomi bangsa sebagai basis kekuatan ekonomi kerakyatan dan tumbuhkan keyakinan bahwa kita bisa sejahtera bersama.

Hanya berbagi dan mencoba untuk mengetuk hati dan rasa kita bersama apakah kita sudah kehilangan empati kepada kalangan petani? Jika kita gagal berempati dan merasakan kehidupan masyarakat petani maka kebijakan yang dihasilkan cenderung tidak pro-petani, bahkan malah mematikan nasib petani sendiri,

Marilah kita sadari bersama kelemahan pengisi kemerdekaan bangsa sekarang adalah empati dan menyatu dengan perasaan masyarakat petani, ingatkah kita dengan istilah ‘Indonesia Menggugat’ yang menggambarkan penderitaan petani akibat sistem tanah paksa dan kebijakan agraria colonial,

Intinya, pentingnya kedaulatan pangan dan menyadari pentingnya petani dan membuat pujian untuk kaum tani dengan membuat akronim Petani adalah Penyangga Tatanan Negara Indonesia,” “Kedekatan dengan petani mestinya tidak hanya berupa lisan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan mereka sehingga roh kebijakan tidak artifisial dan benar benar bisa diimplementasikan dan dirasakan untuk petani kita.

Beberapa bantuan berupa sarana prasarana pertanian banyak digelontorkan kepada masyarakat, kita lupa bahwa sisi sosial /psikologis petani tidak kita sentuh, tidak kita perhatikan. Apakah cukup dengan memberikan bantuan saja? Regulasi kemandirian dan menumbuhkan jiwa sosial jiwa kekeluargaan antar sesama sangat dibutuhkan. Tidak hanya cukup dikasih bantuan, karena sejatinya kehadiran pemerintah dan beberapa stakeholder ditengah kehidupan petani akan lebih mengena dengan pendekatan ikatan emosional.

Tulisan ini hanyalah sebuah wacana dari beberapa literasi yang menarik untuk penulis improvisasi, dengan harapan bisa menjadikan cambuk kita semua untuk menyadari marwahnya petani yang sebenarnya jangan lah hanya menjadi obyek  semata untuk kepentingan individu para pencari keuntungan pribadi. Pakailah rasa dan pendetakan teposliro agar tahu yang sebenarnya terjadi, bukan berasal dari wacana media mainstream yang penuh intrik. Salam PETANIku. M-one



Komentar