Kebijakan dan Program Kementan (23)


Anggaran Kementan (10)


Wilayah (22)


Evaluasi dan Pelaporan Kementan (7)





Manfaat Ular di Sektor Perkebunan dan Pertanian

13 Nov 2019 10:11:10 | Astor

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


4 Petani Paling Kaya di Dunia Hanya Bermodalkan Pertanian

04 Nov 2019 13:44:03 | Astor

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Kementerian Pertanian-Kementerian ATR/BPN Verifikasi Data Luas Sawah

01 Nov 2019 14:46:28 | Astor

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Belajar dari seorang petani

15 Sep 2019 22:22:41 | abu ubaidilah

Wilayah | 0 Komentar


Puasa dan Hubungannya Dengan Kesejahteraan

15 Sep 2019 21:04:50 | abu ubaidilah

Wilayah | 0 Komentar


Puasa dan Dampak Bagi Harga Pangan

15 Sep 2019 18:05:19 | abu ubaidilah

Wilayah | 0 Komentar


Sektor pertanian mengalami pertumbuhan ekonomi cukup signifikan

14 Sep 2019 21:32:05 | abu ubaidilah

Wilayah | 0 Komentar


Peluang usaha pertanian yang menjanjikan

14 Sep 2019 18:17:50 | abu ubaidilah

Wilayah | 0 Komentar


5 Keuntungan Investasi Pertanian yang Menjanjikan

14 Sep 2019 14:31:10 | abu ubaidilah

Wilayah | 0 Komentar


Anggaran RAPBN Tahun 2020

12 Sep 2019 00:23:51 | wawan

Anggaran Kementan | 0 Komentar





Makanan-Makanan Khas yang Ada Saat Paskah

21 Jul 2019 22:15:50 | abu ubaidilah

Wilayah | 1 Komentar


Terbatasnya tenaga kerja pertanian serta agunan harga serta pemasaran rendah

15 Mei 2019 05:13:04 | kekey

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Melaksanakan program yang telah ditetapkan Kementerian Pertanian

15 Mei 2019 05:39:00 | kekey

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Pengesahan Raperda LP2B Molor Lagi

14 Jun 2019 20:25:43 | aeni rahmadhani

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Menteri Pertanian Rombak Pejabat Kementan

02 Ags 2019 10:32:58 | kazidan

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Indonesia Telah Siap Diri Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0

07 Ags 2019 00:19:50 | melay

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Klaim Asuransi Pertanian Capai Rp 10,5 Miliar di Semester I/2019

07 Ags 2019 00:23:47 | melay

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Terbukti Meningkatkan Volume Ekspor, Akademisi Dukung Program Pertanian Modern

07 Ags 2019 00:26:11 | melay

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Milenial Cenderung ke Arah Digitalisasi, Pertanian Indonesia Terancam?

17 Ags 2019 12:09:37 | abu ubaidilah

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Kementerian Beri Apresiasi bagi 30 Pelaku Pertanian

18 Ags 2019 15:14:11 | etusunarti

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar





Makanan-Makanan Khas yang Ada Saat Paskah

21 Jul 2019 22:15:50 | abu ubaidilah

Wilayah | 1 Komentar


Terbatasnya tenaga kerja pertanian serta agunan harga serta pemasaran rendah

15 Mei 2019 05:13:04 | kekey

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Melaksanakan program yang telah ditetapkan Kementerian Pertanian

15 Mei 2019 05:39:00 | kekey

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Pengesahan Raperda LP2B Molor Lagi

14 Jun 2019 20:25:43 | aeni rahmadhani

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Menteri Pertanian Rombak Pejabat Kementan

02 Ags 2019 10:32:58 | kazidan

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Indonesia Telah Siap Diri Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0

07 Ags 2019 00:19:50 | melay

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Klaim Asuransi Pertanian Capai Rp 10,5 Miliar di Semester I/2019

07 Ags 2019 00:23:47 | melay

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Terbukti Meningkatkan Volume Ekspor, Akademisi Dukung Program Pertanian Modern

07 Ags 2019 00:26:11 | melay

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Milenial Cenderung ke Arah Digitalisasi, Pertanian Indonesia Terancam?

17 Ags 2019 12:09:37 | abu ubaidilah

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


Kementerian Beri Apresiasi bagi 30 Pelaku Pertanian

18 Ags 2019 15:14:11 | etusunarti

Kebijakan dan Program Kementan | 0 Komentar


abu ubaidilah    15 Sep 2019 21:04:50

Wilayah | 0 Komentar


Puasa dan Hubungannya Dengan Kesejahteraan


Ibadah puasa kita udah memasuki fase sepuluh hari atau sepertiga ke dua bulan Ramadan. Menurut sebuah hadits Nabi SAW, pada sepuluh hari atau sepertiga pertama bulan Ramadan Allah melimpahkan anugarahNya (rahman) kepada orang-orang yang menunaikan ibadah puasa. Pada sepertiga ke dua Allah membukakan pintu ampunan (magfirah). Sedangkan pada layaknya terakhir Allah melewatkan orang-orang yang menjalankan ibadah puasa berasal dari ancaman dan siksaan neraka (ifkun minan-nar).

Hadits di atas pada prinsipnya menggambarkan bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang dimuliakan Allah dan maka dari itu penuh berkah, yang didalamnya Allah mengakses lebar-lebar pintu rahmat, ampunan dan pembebasan diri berasal dari siksa neraka. Tetapi janji Allah tersebut tentu hanya saja berlaku bagi orang-orang yang menjalankan ibadah puasa bersama imanan wa ihtisaban (iman dan mawas diri atau ikhlas).

Oleh gara-gara itu didalam perjalanan selesaikan amalam ibadah puasa beserta rangkaiannya di hari-hari sepertiga ke dua bulan Ramadan th. ini, ada baiknya kita laksanakan intropeksi-diri dan evaluasi-diri apakah ibadah puasa kita udah mencukupi kualifikasi imanan wa ihtisaban. Tulisan ini coba mencermati persoalan tersebut bersama mengaitkannya bersama fenomena sosial-ekonomi didalam kehidupan masyarakat, yaitu fenomena kenaikan harga bahan pangan dibulan Ramadan dan persoalan kesejahteraan petani.

Puasa didalam bahasa Arab berarti shaum. Secara harfiah kata shaum berarti menghindar diri. Dalam istilah fikih, shaum adalah menghindar diri berasal dari makan dan minum serta segala suatu perihal yang membatalkan puasa berasal dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Dari makna etimologis dan terminologis, bersama demikianlah mampu dipahami bahwa komitmen pokok didalam ibadah puasa adalah pengendalian diri (self-control). Salah satu manifestasi utama berasal dari pengendalian diri didalam pelaksanaan ibadah puasa adalah pengendalian pada konsumsi. Karena itu, kalau ibadah puasa dilakukan bersama benar, yaitu sesuai bersama komitmen pengendalian diri, maka pada bulan puasa semestinya berlangsung penurunan tingkat konsumsi di lingkungan masyarakat Islam.

Akan tetapi, kenyataan didalam masyarakat muslim, khususnya di Indonesia, justru membuktikan sebaliknya. Kedatangan bulan puasa atau bulan Ramadan tetap diiringi bersama kenaikan harga-harga keperluan bahan pokok, yang sering kadang memadai tajam, umumnya udah merasa berlangsung sejak dua atau bahkan tiga minggu sebelum saat waktu bulan puasa. Kondisi harga baru merasa pulih sesudah satu atau dua minggu pasca lebaran.

Pertanyaannya adalah, mengapa kedatangan bulan puasa pada masing-masing th. tetap diiringi bersama harga bahan-bahan keperluan pokok? Teori pasar mengatakan, pada lain, bahwa kenaikan harga berlangsung seandainya permintaan meningkat tepat pasokan tetap. Itu berarti kenaikan harga keperluan pokok pada masing-masing memasuki bulan puasa adalah disebabkan oleh permintaan masyarakat yang meningkat pada bahan keperluan pokok pada bulan puasa. Dengan kata lain, tingkat konsumsi masyarakat muslim di bulan puasa adalah justru lebih tinggi dibandingkan bersama bulan-bulan di luar puasa.

Bila benar bahwa kenaikan harga bahan pangan pada masing-masing memasuki bulan puasa itu mengindikasikan tingkat konsumsi masyarakat muslim di bulan puasa adalah lebih tinggi dibandingkan bersama bulan-bulan tak hanya puasa, maka agaknya ada suatu perihal yang tidak benar didalam praktik puasa kita sepanjang ini. Boleh puasa muharram menjadi ibadah puasa yang kita laksanakan sepanjang ini udah kehilangan esensinya sebagai latihan spiritual pengendalian diri untuk membantuk pribadi muttaqin. Sementara bulan puasa hanya berarti pergeseran jadwal tepat makan, berasal dari siang ke malam hari, namun tingkat konsumsi yang lebih tinggi berasal dari biasanya.

Karena ibadah puasa yang kita laksanakan sepanjang ini udah kehilangan esensinya sebagai latihan spiritual pengendalian diri, maka tidak mengherankan seandainya ibadah puasa yang kita laksanakan th. demi th. seakan-akan tidak beri tambahan dampak apa-apa bagi perbaikan moralitas kehidupan kita didalam bermasyarakat dan bernegara.

Untuk hanya ilustrasi, didalam ceramah-ceramah Ramadan sering dikemukakan bahwa tidak benar satu hikma puasa adalah membentuk pribadi yang disiplin. Tetapi sesudah berakhirnya libur lebaran pada masing-masing th. kita tetap disuguhi berita oleh area elektronik maupun cetak bahwa pada hari-hari pertama, kedua, bahkan hingga kelima sesudah libur lebaran sejumlah kantor pemerintahan tetap lengang. Itu berarti sejumlah pegawai kantor yang udah berpuasa sepanjang satu bulan saja tidak menjadi pegawai yang disiplin.

Karena ”sesuatu yang salah” pada puasa kita adalah terletak pada praktik pelaksanannya, bukan pada ajarannya, maka adalah kewajiban kita masing-masing untuk membenahi praktik ibadah puasa kita pada hari-hari yang tetap tersisa di bulan Ramadan ini dan juga pada tahun-tahun berikutnya. Perbaikan praktik puasa kita perlu mengacu pada komitmen pokok ibadah puasa itu sendiri, yaitu komitmen pengendalian diri.

Di atas udah dikemukakan bahwa kedatangan bulan puasa tetap disertai bersama kenaikan harga bahan-bahan keperluan pokok atau bahan pangan. Masalahnya adalah, mengapa kenaikan harga bahan-bahan pangan tetap mengiringi kedatangan bulan puasa pada masing-masing th. ini tidak berdampak peningkatan kesejahteraan petani sebagai produsen pangan?

Pertanyaan yang dikemukakan terakhir di atas tidak secara khusus mengenai bersama ibadah puasa. Tetapi momen puasa yang tetap mempunyai dampak pada kenaikan harga pangan mampu menjadi wahana untuk melihat lebih jernih masalah tersebut.

Menurut lebih dari satu pengamat, sejak Indonesia menerapkan revolusi hijau, para petani sebagai produsen bahan pangan secara berlahan tercerabut atau dipaksa tercerabut berasal dari kebudayaan tani yang diwarisi secara turun-temurun untuk sesudah itu digantikan secara sepihak bersama langkah kebudayaan saudagar bangsa lain yang lebih unggul modal dan teknologinya. Dalam perkembangannya, di bawah proses neoliberalisme dan pasar bebas, petani bukan saja tercerabut berasal dari kebudayaan tani warisan nenek moyang namun dirampas dan dinafikan kedaulatannya.

Dalam proses neoliberalisme dan pasar bebas, mekanisme pasar dikuasai saudagar-saudagar obat-obatan pertanian dan benih yang dipatenkan. Para saudagar yang bernaung di bawah perusahaan multinasional itulah yang sesudah itu menguasai pangan berasal dari proses produksi, alat produksi, asupan, konsumsi, dan distribusinya. Sementara para petani hanya ditampakkan sebagai kuli didalam mengolah pangan.

Karena menguasai pangan berasal dari hulu hingga hilir, maka perusahan-perusahaan multinasional sekaligus sebagai pemegang otoritas didalam menentukan harga. Dalam pemilihan harga pertimbangannya tentu saja bahwa mereka menangguk keuntungan yang sebesar-besarnya. Sementara dipihak lain, petani yang dirampas dan dinafikan kedaulatannya tidak turut nikmati keuntungan berasal dari perdagangan bahan pangan yang mereka produksi. Ironinya, kala harga pangan jatuh, petani turut merasakan dampak krisisnya.

Dengan demikian, persoalan mengapa kenaikan harga pangan tidak atau kurang berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani adalah gara-gara petani tidak lagi menjadi tuan atas hasil pertanian mereka sendiri. Dan, semua itu berlangsung gara-gara ada kekuatan proses yang tidak mempunyai mekanisme proses pengendalian diri. Dalam konteks inilah ibadah puasa hendaknya tidak hanya hanya membentuk pengendalian diri pada pribadi seorang muslim, melainkan juga perlu diaktualisasikan sebagai kekuatan pendorong untuk melawan proses yang tamak.  

referensi : https://www.abiabiz.com



Komentar

Untuk Memberikan Komentar Silahkan Login Terlebih Dahulu