Berita

Korporasi Petani, Jadikan Petani Berjiwa Wirausaha
Korporasi Petani, Jadikan Petani Berjiwa Wirausaha

Yogyakarta---Perencanaan pembangunan pertanian ke depan tidak lagi bisa disamakan di tiap wilayah Indonesia. Karena potensi dan kondisi lingkungan yang berbeda, sehingga mengharuskan perencanaan pembangunan sifatnyak teknokratis dan berbasis kewilayahan sesuai data spasial.

Kepala Biro Perencanaan Kementerian Pertanian, Dr. Abdul Basit saat memberikan arahan pada Workshop Penyusunan Actionplan, Pengembangan Kawasan Pertanian Berbasis Korporasi Petani Tahun 2019 untuk Wilayah Barat, di DI Yogyakarta, Rabu (20/2) mengatakan, perencanaan wilayah ke depan harus berbeda dengan perencanaan yang biasa dilakukan.  

Dengan demikian, di samping berbasis wilayah, perencanaan harus tersusun dan terpola sesuai kondisi perubahan lingkungan yang ada. Jadi ketika membuat perencanaan tidak bisa lagi dipukul sama rata antar wilayah. Perencanaan wilayah itu berbasis wilayah, sehingga sangat tergantung lingkungan, eksternal dan internal wilayah tersebut.

“Kita perlu membuat perencanaan khas wilayah. Tidak tidak lagi semua bagi-bagi benih yang varietasnya sama. Ini yang kita namakan perencanan teknokratis yang sesuai dengan wulayah setempat,” tuturnya.

Untuk itu menurut Basit, Pemda perlu menyusun master plan provinsi yang beda dengan wilayah lain. Master plan itu kemudian harus diikuti action plan. “Dalam perencanaan wilayah tersebut yang membuat harus daerah. Karena itu perlu sumberdaya yang bisa menyusun rencana teknokratis,” katanya.

Agar bisa tersusun perencanaan wilayah yang baik, Basit mengatakan, SDM yang akan menyusun perlu tambahan kapasitas yang juga harus didukung instrumen, berupa data spasial. Selama ini Basit mengakui, dalam membuat perencanaan kadang hanya menggunakan data yang tabular. Misalnya, hanya menghitung luas wilayah, tapi tidak mengetahui posisinya dimana. Bisa saja besar, tapi terpencar sehingga sulit dijadikan sebuah kawasan.

“Dengan dengan data spasial itu, akan dengan mudah terlihat wilayah mana yang bisa dikembangkan. Apakah antar kecamatan, atau mungkin lintas kabupaten,” ujarnya.

Untuk membantu menyusun kawasan pertanian, Basit mengungkapkan, Kementerian Pertanian dalam hal ini Biro Perencanaan tengah menyusun peta kawasan pertanian dengan skala 1:250.000. “Peta tersebut saat ini kita prioritaskan kabupaten yang menjadi kawasan, teruatam yang bertuang dalam Kepmetan,” ujarnya.

Basit mengakui, meski pengembangan kawasan itu penting, namun skala usaha petani juga harus ditingkatkan tidak lagi dalam skala kecil. Jadi pengembangan kawasan itu tidak hanya aspek teknologi, tapi manajamen usaha tani juga harus diperbaiki.

Karena itu, menurutnya, dalam pengembangan kawasan tidak sekadar menambah luas areal, tapi bagaimana agar petani bisa bekerjasama dalam mengelola usaha taninya. Apakah dalam bentuk koperasi atau gabungan kelompok tani menjadi merupakan korporasi petani. Dengan demikian, petani jadi memiliki budaya wirausaha.

“Selama ini gapoktan hanya untuk mempermudah pemberian bantuan pemerintah. Tapi ke depan juga harus meningkatkan skala usaha petani. Kegiatan on farm dilakukan bersama, sehingga bisa tanam serempak, hilir. Begitu juga pasca panen dan pemasaran juga dilakukan secara bersama,” tuturnya. Dengan korporasi petani, posisi tawar petani pun akan menjadi lebih baik.

 

Sumber : https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/agri-penyuluhan/7980-Korporasi-Petani-Jadikan-Petani-Berjiwa-Wirausaha

Komentar








4.51 Rb

Total Visitor

13  

Visitor Hari Ini

510  

Total Visitor Halaman Ini

3  

Visitor Halaman Hari Ini